Pentingnya Visi & Misi Keluarga
Melihat kembali tugasnya sebagai kepala sekolah, maka seorang ayah jangan bosan mengevaluasi pengasuhan anak-anak. Evaluasi pun harus berdasarkan visi-misi orang tua. Sulit rasanya mengevaluasi kalau visi dan misi saja tak ada. Bukannya evaluasi, malah jadi ilusi. Yang ada malah menyalahkan pasangan dengan bilang, “Gara-gara elu, sih!” Repot, kan?”
Oleh karena itu, rumuskan kembali visi dan misi sebagai orang tua. Inti dari visi pengasuhan ada dua: membebaskan anak dari api Neraka dan membawa mereka ke Surga. Jika Surga menjadi tujuan, maka jelaslah bahwa orientasi Akhirat harus dijadikan standar evaluasi utama pengasuhan. Jadi, tujuannya bukan lagi sekedar bagaimana anak lulus UN, jago main biola, masuk universitas ternama, dan menjadi orang kaya.
Lantas, bagaimana cara kita mengevaluasi pengasuhan anak-anak kita? Ibnu Jarir Ath Thobari pernah berujar, “dialog sesama rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya.” Hal tersebut beliau sandarkan kepada tiga khalifah di zaman Dinasti Umayyah: Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik, dan Umar bin Abdul Aziz.
Pada zaman Sulaiman bin Abdul Malik, pembicaraan rakyat senantiasa dimulai dengan kalimat, “anak sudah berapa?”, “istri kok masih satu?”, “cucumu sudah bisa apa?” Semua tema tak jauh dari seputar pernikahan dan keluarga. Setelah ditelusuri, Sulaiman memang menjadikan pernikahan sebagai program utama.
Pada zaman Walid bin Abdul Malik, obrolan rakyat mulai berubah tema. “Rumah sudah berapa?”, “tanah punya berapa hektar?”, serta pertanyaan-pertanyaan sejenis seputar kekayaan. Setelah ditelusuri, ternyata Walid memang dikenal sebagai pemimpin yang sangat concern dalam masalah kekayaan dan pembangunan.
Namun, lihatlah di zaman Umar bin Abdul Aziz. Setiap obrolan sesama rakyat selalu tentang urusan agama. “Kamu sudah hafal Al-Qur’an?”, “Apakah kamu puasa hari ini?”, “Hafalanmu sudah berapa juz?” Hal tersebut terjadi karena Umar adalah pemimpin yang sangat perhatian dalam urusan Akhirat dan menjadikan agama sebagai inti pembicaraan.
Dari uraian di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk keluarga kita. Apa yang sering dibicarakan antar anak menunjukkan visi asli kita sebagai ayahnya. Anak ibarat rakyat dan ayah adalah pemimpinnya.
Jika anak lebih banyak membicarakan seputar makanan, itu mungkin karena ayahnya seorang penikmat wisata kuliner yang hobinya jajan. Kalau anak lebih banyak membicarakan isi uang tabungan, kemungkinan ayahnya dikenal sebagai pemburu kekayaan.
Intinya, pasang telinga lebar-lebar lalu dengarkan pembicaraan anak kita dari sekarang. Dari lisan merekalah, kita bisa mengevaluasi pengasuhan kita. Jika mereka jarang membicarakan masalah agama, itu tanda bahwa pengasuhan belum berjalan sebagaimana mestinya.
Jika itu terjadi, jangan ragu untuk segera kenalkan visi ayah secara terbuka kepada anak. Contohnya dengan mengatakan, “Kita masuk Surga bareng, yuk!”
Pada akhirnya, teruslah sosialisasikan visi Surga ke anak. Kelak, mereka pun akan tahu keseriusan kita dalam mengasuh mereka. Insya Allah. [Bendri Jaisyurrahman]
Sumber: Fatherman 2.
Tips Memahami Generasi Z & Alpha
#parenting30-10-2025
Mereka yang lahir antara tahun 1996-2010 (Gen Z) dan 2010-2025 (Gen Alpha) memiliki karakteristik unik yang perlu kita pahami. Tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing dengan ilmu, bukan memaksa dengan cara lama yang sudah tidak relevan.
Tips Mengenal Watak Pasangan
#parenting29-09-2025
Perbedaan watak ini bukan alasan berpisah, tapi peluang berpasangan. Dengan panduan wahyu dan kearifan ilmu, kita belajar saling menyucikan jiwa, menyalakan sisi Taqwa dari watak, dan meredupkan sisi Fasik-nya.
Pahami "Bahasa Kasih" Anak
#parenting23-08-2025
Mengapa kadang anak terlihat tak nyaman, mudah ngambek, atau bahkan menunjukkan perilaku yang menyimpang? Jawabannya bisa terletak pada sesuatu yang sederhana namun sering terabaikan: bahasa kasih.
5 Kunci Komunikasi Islami dengan Anak
#parenting16-07-2025
Salah satu kunci keberhasilan orang tua terletak pada komunikasi yang tepat dengan anak. Dalam ajaran Islam, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, namun juga membangun hati, karakter, dan masa depan anak.
Pentingnya Ibu Hamil untuk Bahagia
#parenting26-06-2025
Ibu yang hamil wajib dan berhak bahagia selama hamil. Ibu yang bahagia akan melahirkan anak yang bahagia pula. Jika sang ibu selama kehamilan ibu terlalu stres, kecapekan, dan banyak beban pikiran, maka hal tersebut akan berpengaruh ke janin.